image

 

The Sweetest Chocolate [Sequel Sweet Like a Chocolate]

By Suciramadhaniy

| Main Cast : Han Hye Ra (OC), Cho Kyuhyun | Support cast : Jung Ji Yoon (OC), Lee HyukJae, Adelyn Lee (OC), Choi Siwon |

Genre : Romance, friendship | Rating : PG17 | Lenght : One-shoot (>9000word)

NOTE

Annyeonghaseo, readers.

Sesuai permintaan kalian, aku membawakan sequel dari FF yg pernah aku publish di sini yaitu Sweet Like a Chocolate.

Aku harap kalian bisa sabar untuk membaca fic yang cukup panjang ini.

Maaf kalau typo bertebaran.

Happy reading!!!

Ketika mata ini terbuka, merasakan secangkir cokelat hangat adalah hal yang selalu aku lakukan. Menjadi sebuah kewajiban yang aku lakukan disetiap harinya. Rasa manis cokelat yang sangat memanjakan ketika menyentuh indra pengecap membuat aku menjadi penggila cokelat jenis apapun. Namun, saat ini cokelat-cokelat yang aku rasakan mulai teralihkan dengan seseorang yang membuatku pun menggilainya juga. Cokelat terbaik yang aku punya, yang rasanya lebih manis daripada cokelat-cokelat yang pernah aku rasakan di seluruh penjuru dunia. –Han HyeRa

.

.

.

.

.

The Sweetest Chocolate

 

Pagi ini di pertengahan musim gugur, seperti biasanya gadis cantik bernama Han Hyera telah bersiap untuk berangkat ke London Fashion School–kampusnya. Sebelum pergi ke kampus, ia selalu membuat secangkir Hot Chocolate dan setangkup roti berselai cokelat. Ia mengaduk perlahan Hot Chocolate-nya dan membawanya ke ruang makan beserta roti selai cokelat yang telah ia buat sebelumnya. Beberapa detik kemudian ia telah duduk di kursi ruang makan lalu kembali memegang secangkir hot chocolate-nya kemudian memandang dan menyunggingkan sebuah senyuman pada benda mati yang ia pegangi itu. “Selamat pagi chocolate kesayangan, kau pasti ditakdirkan untuk memanjakanku disetiap pagi.” Gumamnya pelan.

 

Perlahan ia mendekatkan cangkir itu ke arah indra penciumannya dan menghirup dalam-dalam aroma cokelat yang menyejukkan setiap rongga pernapasannya. Kini ia siap untuk menyesap secangkir Hot Chocolatenya, namun suara pintu bel apartemen membuyarkan semua fokusnya untuk menyeruput minuman itu.

“Siapa yang pagi-pagi seperti ini sudah datang?” dengusnya, lalu meletakkan secangkir minuman itu di meja makan dan berlalu menuju pintu untuk melihat siapa yang datang.

 

Suara derit pintu terdengar ketika pintunya mulai terbuka dan seseorang telah berada di sana membelakangi pintunya.

Nuguya?” tanya HyeRa sedikit mengerutkan keningnya.

 

Seseorang itu berbalik seraya menarik sudut bibirnya ke atas membentuk sebuah lengkungan senyum khasnya yang semakin menambah ketampanannya, menjadikan HyeRa terperangah atas ciptaan Tuhan yang begitu sempurna itu tanpa cela setitik pun.

 

“Kau lupa denganku hmm?” ujar sosok itu seraya menatap mata HyeRa lekat.

 

Gadis itu diam mematung di tempat, matanya tak berkedip dan seketika tubuhnya seperti kehilangan nyawa. Nyawanya seperti diserap habis oleh namja itu. Ia terlalu terpesona dengan makhluk Tuhan yang ada di hadapannya kini. Kemudian ia baru tersadar saat sebuah tangan besar menyentuh keningnya, “Kau sakit HyeRa-ya?”

 

“Haa? Apa? Kyuhyun-ssi?” ia terhentak ketika sebuah suara berat semakin menyadarkannya akan keterpesonaan pada namja itu.

 

Kyuhyun terkikik geli melihat ekspresi HyeRa yang seperti melihat hantu di hadapannya. “Kau melihat hantu di hadapanmu sekarang?”

 

“A-aku tidak melihat hantu. Justru aku melihat seseorang yang sangat tamp–“ HyeRa  segera membungkam mulutnya dengan kedua tangannya. Bagaimana kalau pria itu tahu kalau ia terpesona padanya? Bisa-bisa harga dirinya turun seketika.

 

Kyuhyun–lelaki itu menaikkan sebelah alisnya tanda tak mengerti dengan ucapan yang baru saja gadis itu lontarkan, namun seketika mata Kyuhyun mengerling dan tersenyum menyeringai. Ia melangkah maju mendekati Hyera yang mundur perlahan seiring tubuh Kyuhyun yang semakin mendekat padanya, hingga pada akhirnya punggung belakang gadis itu menubruk tembok. Kedua tangan Kyuhyun mengunci semua ruang HyeRa, diapitnya gadis itu dalam jarak pandang yang sangat dekat.

 

HyeRa merasakan oksigen disekelilingnya mulai habis, napasnya tercekat ketika pandangannya bertemu dengan mata coklat Kyuhyun. “Kyu- Kyuhyun, bisakah kau menjauh dariku?” suaranya bergetar. Deruan jantungnya pun kian menggema, berdetak secara cepat yang menjadikan darahnya mengalir hingga melewati ruas-ruas wajahnya yang kini kian merona. “Oh God, tolong aku. Ada seorang lelaki tampan bak serigala yang siap menikam daging segarnya yaitu aku. Bebaskan aku Tuhan. Ku mohon.” Ia membatin meminta perlindungan dari Tuhan.

 

Kyuhyun memainkan jemarinya di wajah gadis itu. “Kau terpesona padaku kan HyeRa-ya? Tidak perlu berbohong, karena aku bisa melihat raut wajahmu.” Ujarnya masih memainkan jemarinya seraya menatap tepat pada manik mata HyeRa. Ia semakin mendekatkan wajahnya pada gadis itu, “kita seri HyeRa-ya, aku pun terpesona denganmu.” Bisik Kyuhyun pada indra pendengaran HyeRa yang nyaris tak terdengar.

 

HyeRa tersentak karena Kyuhyun secara terang-terang berucap padanya seperti itu. Ia memang terbiasa bersama Kyuhyun dan merasakan sesuatu yang bergemuruh dalam dirinya saat ia dekat dengan namja itu seperti tempo lalu di Kafe. Akan tetapi pernyataan yang baru saja Kyuhyun lontarkan itu–apakah itu sebuah kode untuknya?

 

HyeRa medorong kuat bahu Kyuhyun, sehingga ia terbebas dari kedua tangan Kyuhyun yang menguncinya tadi.

 

“Sudahlah Kyuhyun, nanti kita bisa terlambat.” Ujarnya lalu beralih mengambil secangkir Hot Chocolate yang mulai dingin. Ia berdecak kesal ketika Hot Chocolate yang ingin diminumnya itu tiba-tiba dirampas begitu saja oleh Kyuhyun, “aiiisshh, Cho Kyuhyun itu minumanku!”

Kyuhyun menyesap Hot Chocolate milik HyeRa sampai habis tak bersisa.

 

“Hot Chocolate buatanmu ini enak juga HyeRa-ya.” Ujar Kyuhyun seraya tersenyum puas pada gadis yang masih menggerutu dan menopang kedua tangannya di depan dada.

 

“Terserah kau saja. Ayo kita berangkat nanti kita bisa terlambat!”seru HyeRa tegas. Lalu Kyuhyun segera menarik lengan gadis itu untuk segera berangkat dan menuju tempat parkir.

 

HyeRa hanya mendengus kesal atas perlakuan Kyuhyun padanya. Terkadang ia berpikir Kyuhyun adalah namja tampan yang selalu bersikap baik dan manis pada semua orang tapi mulai detik ini ia mencabut kata-katanya itu karena ia mulai tahu bahwa Kyuhyun memiliki sisi kelicikan yang luar biasa. Mengingat kejadian yang baru saja dilaluinya,  tatapan mata Kyuhyun yang meyeringai padanya dan oh satu lagi–ia merebut paksa minuman kesayangannya, Hot Chocolate.

 

***

 

Mobil berwarna putih sampai pada pelataran parkir London Fashion School, pengemudi dan penumpangnya keluar bersamaan dari mobil itu. Para gadis yang berada di sekeliling parkir itu pun berhenti sesaat dari aktivitasnya dan mencuri pandang pada pengemudi itu. Sang pengemudi menampakkan senyum termanisnya yang seketika itu juga membuat para gadis berdecak kagum. Ia kemudian mengerlingkan tatapan matanya pada gadis yang menjadi penumpangnya. “Lihatlah, bahkan mereka juga terpesona denganku.” Ujarnya membanggakan.

 

Gadis itu menghela napas panjang, berusaha untuk sabar. Lalu ia menarik sedikit sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman tipis, “okay, thankyou Mr.Cho for this morning.”

 

 

Tak jauh dari tempat HyeRa dan Kyuhyun berpijak, sepasang mata tengah memerhatikan gerak-gerik mereka. Ia berdecak, kenapa setiap ia melihat gadis itu seperti ada keterkaitan  yang mendalam dengannya. Lalu ia berjalan menghampiri mereka dan menarik pelan tangan HyeRa ke belakang tubuhnya, ia tersenyum sinis pada Kyuhyun yang menautkan kedua alisnya karena tak mengerti dengan sikap seorang namja yang tak dikenalnya.

Seseorang itu kemudian menarik tangan HyeRa lagi dan membawanya ke taman belakang kampus mereka.

 

Kyuhyun hanya mengendikkan bahunya, tak peduli.

 

 

***

 

 

“Choi Siwon-ssi, ada apa?” tanya HyeRa ketika dirinya sudah berada di taman belakang kampusnya bersama dengan Siwon.

 

Siwon memfokuskan pandangannya dengan mata gadis itu seraya memegang bahunya erat, “HyeRa-ya, apakah kita pernah bertemu di masa lalu?” tanyanya.

 

HyeRa menatap wajah Siwon lekat-lekat. Mencoba mencari-cari sebuah kebohongan atau kebenaran di sana. Menatap mata namja itu membuat pikirannya melayang-layang pada masa itu–masa dimana ia bertemu dengan seseorang yang telah mengisi keindahan masa kecilnya. Seseorang yang dianggapnya sebagai pangeran kecil yang tampan.  Namun, ia sudah mengubur dalam-dalam kenangan itu. Kenangan yang tidak akan terkuak kembali. Ia mendengus pasrah, kenapa Siwon bisa bertanya seperti itu padanya? Bukannya mereka memang baru saja bertemu beberapa minggu yang lalu?

 

“Sepertinya aku tidak pernah mengenalmu sebelumnya Siwon-ssi.” Jawabnya tegas. Namun, dalam dirinya kini seperti ada yang tergali entah itu apa.

 

Siwon menatap gadis itu masih dengan harapan dan keyakinannya, “apakah kau yakin?” tanyanya lagi, sembari mengoyak bahu HyeRa untuk meminta sedikit petunjuk darinya. Seketika itu juga, ia merasakan tertarik ke dalam arus lingkaran mata HyeRa yang membuatnya merasa pening. Matanya terpejam sesaat, otaknya berputar-putar untuk mencari sesuatu yang ia ingat tentang keberadaan masa lalu. Namun, kala itu juga ia tak bisa menangkap bayangan-bayangan hitam putih yang selalu terlintas. Kini ia memengang pelipisnya yang pusing luar biasa hingga pandangannya mulai redup dan gelap.

 

HyeRa panik melihat namja itu pingsan di hadapannya. Lalu ia mengkontak Adelyn untuk meminta bantuan.

 

“Halo, Adelyn. Ini aku HyeRa.” Ujarnya panik.

 

“Ya, ada apa HyeRa?”

 

“Si-Siwon pingsan!” jawabnya dengan suara bergetar.

 

“A-apa? Kenapa bisa? Sekarang kalian dimana?”

 

“Entahlah. Sekarang kami ada di taman belakang.”

 

Adelyn segera memutuskan sambungannya telponnya, ia bergegas ke taman belakang bersama dengan petugas unit kesehatan.

 

 

***

 

 

“Sebenarnya apa yang terjadi HyeRa-ya?” tanya Adelyn ketika mereka telah sampai di ruang kesehatan dan sudah merawat Siwon dengan mengolesi minyak kayu putih pada pelipisnya.

 

HyeRa terdiam, lalu menoleh ke arah Siwon yang berada di sampingnya. Ia menarik dapas dalam-dalam untuk menceritakan kejadian itu pada Adelyn.

 

“Jadi tiba-tiba saja Siwon menarikku ke belakang taman dan bertanya tentang masa lalu nya padaku. Hmm maksudku, dia bertanya padaku apakah aku mengenalinya pada masa lalu atau tidak. Kemudian tiba-tiba ia pingsan begitu saja di hadapanku. Apakah kau mengetahui penyebabnya, Lyn?” HyeRa menjelaskan pada Adelyn, ia juga ingin tahu apa penyebab Siwon bisa pingsan secara tiba-tiba seperti itu. Apalagi Siwon pingsan di hadapnnya, membuat ia panik seketika.

 

Adelyn menerawang pandangannya ke arah Siwon, lalu ia mulai bercerita sedikit tentang namja itu, “hmm mungkin ini karena beberapa memori ingatannya mulai tersambungkan. Entahlah, nanti aku dan Siwon akan ke dokter untuk mengeceknya.”

 

HyeRa hanya mengangguk-anggukan kepalanya, karena ia juga tak tahu akar permasalahannya dimana. Namun sebersit otak dan pemikirannya tiba-tiba mengingat seseorang pada masa lalunya. Kenapa ia selalu merasakan sebersit ingatan itu saat ia bertemu dengan Siwon?

 

 

***

 

 

“Bagaimana Dok? Apakah Choi Siwon baik-baik saja?”

 

Suara seorang gadis pun terdengar menuntut penjelasan sang dokter tatkala dirinya dan kekasihnya kini berada di sebuah rumah sakit untuk berkonsultasi tentang keluhan yang kerap kali menghinggapi lelaki tampan itu. Ia tahu betul, selama Siwon berada di dekatnya–lelaki itu tidak pernah mengeluh tentang apapun padanya. Namun, akhir-akhir ini ia merasakan perubahan sikap dan perilaku Siwon yang seringkali memegang pelipis dan keningnya; entah karena ia merasa pusing atau apapun.

 

Adelyn memfokuskan mata dan indra pendengarannya untuk mendapatkan penjelasan dari dokter. Sang dokter pun memulai penjelasannya pada gadis yang ada di hadapannya. “Siwon-ssi dalam keadaan tubuh baik-baik saja, Nona. Tidak perlu ada yang dikhawatirkan tentangnya. Namun, mungkin ini ada masalahnya tentang ingatannya pada masa lalu. Apakah ia memiliki beban pikiran masa lalu yang membuatnya kerap kali merasakan pusing yang amat berat di kepalanya?”

 

Adelyn beralih manatap Siwon yang berada di sampingnya–masih tampak pucat dengan memegang pelipisnya. Ia berpikir sejenak, kalau pun ia bertanya pada Siwon saat itu juga pasti lelaki itu tak akan menjawab pertanyaannya dengan benar. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya ia memutuskan untuk mengurungkan pertanyaannya pada lelaki itu.

Matanya kembali menatap serius sang dokter, lalu beberapa pertanyaan terlontar dari mulutnya.

 

“Memang sebenarnya bagaimana kondisi Siwon dengan ingatannya Dok?” tanyanya menaruh rasa penasaran yang cukup dalam.

 

“Kondisi ingatan Siwon pada masa kini baik-baik saja. Namun, ada sedikit sel-sel dalam otaknya yang sempat terputus pada masa lalu yang kini mulai terhubungkan satu demi satu sel-sel itu membentuk sebuah ingatan yang sulit untuk diingatnya karena terlalu mmbebani pikiran dan otaknya.” Ucap sang dokter menuturkan sebuah penjelasan panjang.

 

Adelyn hanya mengangguk antara mengerti dan tak mengerti inti dari semua permasalahan. Mungkin ia harus menanyakannya pada sanak saudara Siwon untuk mengetahui masa lalu lelaki itu.

Siwon pun hanya menanggapinya dengan anggukan ringan. Seakan tak peduli karena ia masih merasakan pening yang begitu merasuki kepala dan otaknya.

 

“Baiklah, saya akan memberikan resep obat untuk meringankan pusing yang kerap menyerang Siwon-ssi kapan saja.” Ujar Dokter seraya menuliskan sebuah resep pada selembar kertas resep lalu menyodorkannya pada Siwon.

 

“Terima kasih.” Ujar Siwon lemah.

 

 

 

***

 

 

 

 

Hari itu HyeRa berada di perpustakaan kampusnya. Ia memilih beberapa buku yang tersusun rapi untuk dijadikan referensi tugas mingguannya yang diberikan oleh Kim Songsaenim. Setelah mendapatkan buku tentang sejarah fashion, bagaimana menjadi desainer yang baik dan tentu saja HyeRa mengambil biografi seorang desainer terkenal sepanjang masa untuk lebih memotivasi dirinya, lalu ia beranjak untuk duduk di salah satu kursi.

 

Matanya menyipit tatkala mencari-cari kursi yang kosong. Dan ia pun menemukan kursinya–tepat di sebelah Choi Siwon. ‘Haruskah aku bertemu dengannya sekarang?’ ia membatin, jika duduk di sebelah Siwon berarti dirinya harus siap kalau-kalau Siwon menginterupsinya, lagi.

 

Ia harus. Karena tugas itu menuntutnya.

 

Good afternoon, Siwon-ssi

 

HyeRa berusaha menyapa Siwon. Ia pun tersenyum tipis ke arahnya, “boleh aku duduk di sini?”

 

“Tentu saja, silahkan” jawabnya singkat dengan mengulas senyum.

 

 

Huh, akhirnya. Ternyata hal yang ditakuti HyeRa hanya perasaannya saja, karena sejauh ini Siwon sibuk dengan bacaannya. Tidak mengintrogasinya lagi, bahkan tidak memulai pembicaraan. Ya, itu bagus. HyeRa bisa mengerjakan tugasnya dengan tenang.

 

1 menit… 3 menit… 5 menit…

 

HyeRa merasakan baik-baik saja pada menit ke-5. Hingga pada menit ke-30 konsentrasi HyeRa memecah dan ia mengacak rambutnya karena sedikit frustasi.

Ia merasakan bayangan-banyangan itu muncul begitu saja layaknya roll film yang sedang memutar the best movie yang akan ditampilkan. Namun, tidak untuk HyeRa, banyangan itu bukan bayangan the best movie; melainkan bayangan gelap masa lalunya. Padahal ia sudah menguruk bayangan itu sedalam-dalamnya. Tidak ada yang bisa menggalinya lagi. Namun, bayangan itu justru menguar ke permukaan.

 

Oh, haruskah HyeRa berteriak sekarang juga? Tidak! Karena ia berada di perpustakaan. Ia menutup mulutnya rapat.

 

Siwon yang sedang asyik membaca pun sedikit terusik oleh gadis itu.

 

“Kau kenapa HyeRa?

 

HyeRa menoleh, “tidak apa-apa. Hanya sedikit pusing,”

 

“Pusing? Apakah pusing itu sama seperti yang aku rasakan?” Siwon menuntut. Kali ini ia benar menginterupsi gadis itu.

 

“Sudahlah Choi Siwon, aku tidak mengerti apa-apa!” HyeRa sedikit berteriak hingga semua mata menjurus menatap mereka.

 

 

HyeRa bersiap untuk pergi dari perpustakan, meninggalkan Siwon yang masih diam di tempatnya. Semua orang kembali pada kesibukannya setelah gadis itu membungkuk dan meminta maaf sebelum ia benar-benar keluar dari perpustakaan itu.

 

Ia berlari cepat melewati setiap koridor kampusnya dengan perasaan yang berkecamuk, merasakan pusing yang tiba melandanya. Sesekali ia juga menabrak seseorang dan berlalu begitu saja. Hingga akhirnya ia berlari untuk meninggalkan kampus karena ia pun harus segera pulang dan…..

 

Bruk!!

 

HyeRa menabrak seseorang dan semua buku yang ia bawa jatuh berantakan. HyeRa segera mengambil buku-buku itu kembali, dibantu oleh orang yang ditabraknya barusan.

 

“Ma-maaf, aku tidak sengaja.”  Ia mengakui kesalahannya dengan wajah muram yang sangat kentara di wajahnya yang tertunduk.

 

“Hati-hati lain kali. Dan hei…, kau kenapa Ra-ya? Kenapa wajahmu muram seperti itu?” tanya seseorang itu sedikit cemas melihat kondisi HyeRa yang sedikit berantakan.

 

Gadis itu mendongak dan mendapati Kyuhyun di hadapannya sekarang. Seketika itu ia merasakan perasaannya semakin meluap-luap karena entah kenapa melihat Kyuhyun di hadapannya ia ingin menghambur ke dalam orang itu dan berbagi cerita padanya. Kyuhyun selama ini selalu bisa menjadi penyemangatnya, moodboster-nya, dan ia merasa hangat berada disekitar pria bertubuh cukup tinggi itu.

 

“Kyuhyun…. bisakah kita–“ HyeRa belum selesai dengan kalimatnya, namun Kyuhyun memotongnya dengan menarik pelan tangan gadis itu untuk masuk ke mobilnya.

 

“Aku tahu tempat yang bagus untuk kita berbincang-bincang,” ucap Kyuhyun kala dirinya telah duduk di samping gadis itu seraya menatap wajah HyeRa yang sedikit pucat.

 

HyeRa mengangguk lemah. Ia selalu percaya, tempat yang direkomendasikan Kyuhyun pasti adalah tempat yang nyaman untuknya. Dan Kyuhyun selalu mengerti kemana ia harus membawa gadis penggila cokelat ini  dan mungkin gadis ini pula yang mulai menelusupi setiap rongga dalam hatinya.

 

 

Akhirnya mereka pun sampai di tempat tujuan.

 

 

“Pejamkan matamu sampai aku menyuruhmu membuka mata kembali,” perintah Kyuhyun sebelum ia keluar dari mobil dan membimbing gadis itu untuk berjalan dengan mata terpejam.

 

 

Angin pun berembus pelan, menerbangkan rambut-rambut kecil HyeRa. Ia juga merasakan suhu disekitarnya bertambah dingin karena angin terus merasuk ke dalam pori-pori kulit hingga tulang-tulangnya. Tangannya bergerak refleks untuk mendekap tubuhnya sendiri.

 

“Apakah sudah sampai?” HyeRa bertanya, masih dengan matanya yang tertutup.

 

“Sudah, silahkan buka matamu.” Kyuhyun berucap dengan lembut.

 

HyeRa membuka mata, dan pandangannya mendapati sebuah pemandangan yang luar biasa. Hamparan laut biru yang luas beserta gulungan ombak yang berada di bawahnya.

Kini ia dan Kyuhyun berada di sebuah tebing tinggi pada pesisir pantai. Pemandangan yang menakjubkan pada sore hari di kawasan London.

 

Gadis itu merentangkan tangannya lebar, membiarkan segala kepenatan dalam pikirannya ikut terbawa angin seraya matanya terpejam.  Pusing yang sempat melandanya mulai tergantikan dengan rasa segar yang memasuki otaknya. Pikirannya terasa lebih fresh. Sekelebat bayangan masa lalunya terhempas entah kemana. Kini yang perasaan yang ada disekitarnya hanyalah rasa kelegaan. Kyuhyun memang selalu bisa membuatnya merasa nyaman.

 

“Terima kasih Kyuhyun-ah,” ujarnya sembari mengulas senyum menatap wajah Kyuhyun yang berada tak jauh di sampingnya.

 

“Kau sudah merasa lebih baik?” Kyuhyun menoleh dan mendapatkan gadis itu yang tengah menatapnya, membuat jantungnya sedikit bekerja lebih cepat dari sebelumnya.

 

“Tentu saja, kau selalu membuatku terasa lebih baik.”

 

HyeRa masih menatap wajah Kyuhyun lekat, manik mata mereka saling bertemu pandang lalu Kyuhyun sedikit memperkecil jarak diantara mereka. Gadis itu terkesiap. Ia memalingkan wajahnya ke arah pemandangan, alih-alih untuk menutupi rasa yang tiba-tiba meletup ketika pandangannya bertemu dengan manik Kyuhyun. Mengalihkan rasa canggung yang menggerayangi sekeliling mereka.

 

“Lihat, pemandangan sunset sangat indah!” HyeRa berseru, matanya berfokus pada matahari yang hendak mengumpat kembali ke asalnya.

 

Well, mereka sangat menikmatinya. Hingga Kyuhyun tiba-tiba teringat sesuatu.

 

“Ra-ya, aku ke mobil sebentar yaa? Ada sesuatu yang tertinggal.”

 

HyeRa hanya menggangguk mengiyakan.

 

Beberapa menit kemudian Kyuhyun kembali dengan dua gelas minuman berada di tangannya.

 

“Hei, ini untukmu!” Serunya pada HyeRa sembari tangannya menyodorkan segelas Hot Chocolate ke arah gadis itu.

 

“Bagaimana kau bisa mendapatkan ini?” mata gadis itu melihat gelas yang terisi Hot Chocolate sepintas, lalu beralih menatap Kyuhyun dengan satu alis sedikit terangkat – meminta penjelasan.

 

Kyuhyun tersenyum sekilas, “aku membelinya tadi sebelum aku menjemputmu.”

 

“Aku sangat berterima kasih padamu Kyu,” ujar HyeRa membalas senyuman Kyuhyun. Entah kenapa senyuman Kyuhyun membuat dirinya menjadi lebih tenang. Selalu seperti cokelat kesukaannya yang setiap saat membuat dirinya memjadi lebih nyaman tatkala dirinya berada disamping lelaki itu.

 

HyeRa sangat menikmati suasana sore hari di atas tebing itu. Matanya terkadang melirik Kyuhyun yang berada di sampingnya, matanya terpejam merasakan hembusan angin yang merasuki tubuhnya. Ia mengulas senyum ketika mendapati Kyuhyun menoleh ke arahnya. Padangan mereka bertemu sesaat sebelum HyeRa kembali dalam kesadaraan penuhnya. Perlahan ia menghirup aroma minuman cokelat yang ada di tangannya. Tidak ada asap yang menguar dari sana, hanya aroma cokelat yang khas. Aroma kesukaannya.

 

“Kyuhyun….” panggil HyeRa dengan suara nyaris tak terdengar, namun angin membawa suaranya hingga menerobos telinga Kyuhyun.

 

Hhm?” Kyuhyun hanya berdeham menanggapinya.

 

“Kau tahu? Aku selalu menyukai momen bersamamu. Entah itu apa, tapi aku merasakan ketenangan saat bersamamu.” Ujar HyeRa menatap lurus ke arah pemandangan di depannya. Sesekali ekor matanya melihat Kyuhyun masih terdiam.

 

Kyuhyun pun menoleh, dahinya berkerut dan alisnya sedikit terangkat, “maksudmu?” tanyanya pada akhirnya.

 

Tanpa sadar HyeRa mengucapkan sesuatu dengan nada yang sangat pelan. “Aku rasa, aku menyukaimu Kyuhyun… Bahkan lebih dari itu.”

 

Sayangnya suara HyeRa hanya terdengar olehnya. Kyuhyun tak mendengar beberapa untaian kata yang baru saja dilontarkan gadis itu. Namun, sebenarnya ia pun merasakan hal yang serupa.

 

 

 

***

 

 

 

“HyeRa-ya!!” panggil Adelyn padanya kala dirinya berjalan pada koridor kelas ketika jam mata kuliah telah usai.

 

HyeRa yang berjalan tidak terlalu cepat pun segera menoleh ke asal suara itu, ia menaikkan sedikit alisnya mendapati Adelyn yang tengah menghampirinya berjalan agak cepat. Setelah kemarin sore perasaannya sudah membaik, hari ini HyeRa pun melakukan aktivitasnya seperti biasa, kuliah dan sepulangnya ia akan bekerja di butik teman ibunya. Selalu seperti itu di setiap harinya; kecuali hari Sabtu dan Minggu.

 

“Ada apa?” tanyanya pada Adelyn ketika gadis itu telah berdiri di hadapannya seraya melempar senyum ramahnya.

 

“Ini undangan untukmu,” Adelyn menyodorkan undangan pada HyeRa, “aku harap kau datang ya?” lanjutnya lagi.

 

HyeRa menerima undangan itu, alisnya sedikit naik mengamati undangan yang ada di tangannya.

“Undangan apa ini?” tanyanya penasaran.

 

“Ini undangan peresmian café ku yang akan aku kelola nantinya. Uhmm, di sana akan menjual banyak varian cokelat. Kau pasti menyukainya kan?”

 

Mata HyeRa membulat berbinar, sudut bibirnya terkembang membentuk simpul senyum menampakkan kedua lesung pipinya. “Waah, aku pasti akan datang ke sana Adelyn. Anyway, terima kasih undangannya ya.” HyeRa menepuk pelan bahu Adelyn sembari berterima kasih padanya. Lalu ia beringsut meninggalkan Adelyn, menuju ke halte bus.

 

“Ya, aku tunggu kedatangannya ya!” Adelyn melambaikan tangan kala HyeRa mulai menjauh dari pandangannya.

 

Sementara itu, Adelyn bergegas menuju mobilnya untuk pergi ke rumah Siwon. Ya, hari ini ia akan menanyakan perihal tentang Siwon  pada ibunya. Ia ingin tahu bagaimana kehidupan Siwon–kekasihnya sebelum bertemu dengannya.

 

Ia pun menyalakan mesin mobil dan melesat ke rumah Siwon sebelum lelaki itu sampai di rumahnya. Adelyn tidak ingin Siwon mengetahui kalau akan bertanya soal dirinya pada ibunya; kalau-kalau Siwon akan marah padanya.

 

Akhirnya sampailah ia di sebuah rumah yang cukup megah. Adelyn tidak kagum pada rumah itu, karena ia pun memiliki rumah yang tak kalah megah dengan rumah milik Choi Siwon–seorang anak dari pengusaha mobil dan motor yang penggunanya sangat banyak; ibunya juga memiliki butik ternama dimana-mana. Well, tidak heran jikalau lelaki itu sangat kaya. Sedangkan Adelyn? Ayahnya adalah seorang dokter yang memiliki rumah sakit di London dan Seoul lalu ibunya adalah pengusaha cokelat yang membuka beberapa toko cokelat dan café; yang salah satunya akan diresmikan untuk gadis itu.

 

Adelyn menekan tombol bel pintu rumah Siwon, lalu tak lama kemudian muncul seorang wanita paruh baya yang parasnya masih cantik. Wanita itu menyunggingkan senyum ramahnya pada Adelyn, beliau sudah mengenal Adelyn sejak lama.

 

“Halo Adelyn, lama tak berjumpa.” Wanita itu tersenyum lembut, guratan-guratan kecil sudah mulai nampak di wajahnya.

 

Adelyn membalas senyum ramah, “iyaa Mrs. Choi. Bagaimana kabar anda?”

 

Wanita paruh baya itu meraih tangan kanan Adelyn, “tidak baik bicara di depan pintu. Mari silahkan masuk.”

 

Akhirnya mereka pun masuk ke rumah dan mendudukan diri pada sofa empuk di ruang tamu yang sangat megah dengan nuansa Eropa dan Asia yang begitu kental.

 

“Kabarku sangat baik Lyn, kamu sendiri bagaimana?” Wanita paruh baya itu melanjutkan percakapannya yang sempat terpotong.

“Syukurlah kalau begitu, aku juga baik Mrs Choi. Hmm, bolehkah aku bertanya sesuatu tentang Siwon?” Adelyn mefokuskan matanya menatap wajah Mrs. Choi dengan serius.

 

“Bertanya soal apa?” matanya menatap serius ke arah Adelyn. Dalam benaknya terselip rasa penasaran. Tumben sekali kekasih anaknya menanyakan hal yang kedengarannya cukup serius tentang anak semata wayangnya itu.

“Begini, akhir-akhir ini Siwon seringkali merasakan pusing yang tiba-tiba. Tempo hari lalu aku dan Siwon sudah mengecek ke dokter, lalu dokter memberikan penjelasan. Ini tetang masa lalunya Mrs.” Adelyn mulai menjelaskan, matanya terlihat sangat fokus. Telinganya di pasang baik-baik untuk mendengar penjelasan Mrs Choi.

Wanita paruh baya itu menganggukan kepala. Mengerti ke arah mana topik yang ditanyakan gadis di hadapannya. Matanya terpejam, memori otaknya berputar menayangkan kejadian masa lalu terkait dengan anaknya itu.

“Jadi sebenarnya, Siwon mengalami depresi pada masa lalunya.”

Adelyn membelalak, selama ini Siwon tak pernah menceritakan kalau dirinya pernah mengalami depresi.

“Lalu apa penyebabnya?” tanyanya semakin penasaran.

Wanita paruh baya itu tersenyum tipis mengingat kejadian masa lalu sebelum keluarganya berada pada tingkat teratas seperti ini.

“Dulu, kami belum mempunyai apa-apa. Saat itu, Siwon berumur 5tahun. Sifatnya sedikit menuntut dan keras kepala. Suatu hari, ia ingin dibelikan mobil remote control yang harganya sangat fantastis. Kami tidak bisa memenuhi keinginannya. Ia terus merengek, hingga akhirnya ia mencoba kabur tapi beruntung ia tidak jadi kabur karena…..” Mrs Choi memotong pembicaraannya, ia mengambil napas dalam untuk mengisi rongga pernapasannya dengan oksigen segar.

Adelyn masih setia menunggu kelanjutannya. Alisnya sedikit terangkat kala Mrs Choi berhenti sejenak.

“Karena….. Siwon bertemu dengan gadis kecil yang menghiburnya kala itu. Gadis kecil itu memberikan sebuah keyakinan dan kekuatan tersendiri untuk Siwon sehingga anak itu tak lagi menuntut keinginannya. Gadis itu berhasil mengambil hati Siwon dengan sikapnya, hingga–” Wajah Mrs Choi Siwon sedikit tertunduk, ingatan itu masih jelas berpendar dalam otaknya.

“-Kami harus memisahkan mereka karena harus membangun kehidupan kami yang lebih layak di London.” Lanjut Mrs. Choi.

Adelyn mengangguk mengerti, ternyata dibalik semua kekayaan Siwon; orang tuanya sangat meperjuangkan ini semua.

“Apa yang terjadi selanjutnya?” tanya Adelyn lagi.

Wanita paruh baya itu kini memandang ke depan, seakan peristiwa itu berada di hadapannya.

“Siwon sangat terpuruk setelah ia berpisah dengan gadis kecil itu. Semua kekuatan dan keyakinannya semuanya musnah seketika. Ia tak punya kekuatan lagi, hanya berdiam diri di dalam kamar. Meringkuk seperti kehilangan sesuatu paling berharga. Ia depresi berat. Dokter mengatakan, ini tidak baik untuk psikisnya. Maka dari itu ia menjalani terapi.”

Adelyn hanya mengangguk-angguk. Entah ia mengerti atau tidak.

“Terapi itu membuat sedikit saraf dalam memori otaknya terputus. Melupakan semua kejadian yang pernah dialaminya,” lanjut Mrs. Choi. Ada setitik air mata yang keluar dari sudut mata yang sudah mulai berkerut itu.

“Setelah ia terapi, kehidupannya berjalan normal sampai sekarang. Namun, mungkin rasa pusing itu bisa saja melanda Siwon ketika ia bertemu dengan gadis kecil pada masa lalunya Pusing karena memang saraf memori otaknya bekerja ekstra untuk menyambungkan kejadian-kejadian itu.”

Adelyn membulatkan matanya, mulutnya terbuka; sedikit agaknya ia tersentak ketika Mrs. Choi menyebutkan, ‘rasa pusing itu bisa saja melanda Siwon ketika ia bertemu dengan gadis kecil itu.’

Berarti Siwon telah bertemu dengan gadis kecil itu? Tapi dimana?

Adelyn terus mengingat kapan terakhir Siwon terserang rasa pusing itu dan… Ia ingat! Siwon pusing karena bertemu dengan HyeRa. Apakah HyeRa gadis kecil itu?

Adelyn tersenyum getir. Mimik wajahnya kini berubah.

“Kau jangan khawatir. Siwon bilang, dia sangat mencintaimu jadi kalaupun masa lalu itu teringat kembali mungkin mereka hanya sebatas sahabat.” Wanita itu berusaha menenangkan Adelyn. Rupanya mudah sekali menebak perubahan wajah Adelyn yang merasa agak gusar.

Sahabat? Tahu apa Mrs. Choi tentang perasaan hati Siwon pada masa lalunya. Hari ini bisa saja Siwon mencintai Adelyn. Tapi, siapa yang tahu kalau perasaannya tiba-tiba bisa berubah?

Adelyn menyunggingkan senyum, pertanda ia akan baik-baik saja. Memang dia masih dalam keadaan baik sejak tadi bukan?

Akhirnya Adelyn mengakhiri percakapan itu, “terima kasih banyak Mrs. Choi atas penjelasan yang mendetail ini. Aku tidak tahu ternyata kehidupan kalian dahulu begitu rumit.”

Memang benar. Siwon memiliki kehidupan yang rumit daripada dirinya yang sudah terlahir diantara orang tua yang sukses dalam karier mereka.

Mrs. Choi tersenyum lembut, tangannya terulur untuk mengusap punggung tangan kanan milik Adelyn.

“Memang beginilah hidup. Penuh dengan rintangan,” ujarnya.

“Aku pamit pulang dulu Mrs. Choi. Sekali lagi, terima kasih.” Adelyn membungkukkan badannya menghadap wanita itu sebelum ia benar-benar meninggalkan rumah Mr dan Mrs. Choi. Rumah dimana Siwon menghabiskan waktunya dengan keluarga.

***

Di sisi lain, di waktu yang sama Han HyeRa sedang menunggu bus yang sudah dari setengah jam yang lalu tak tampak.

Ia mendengus, bola matanya bergerak ke kiri dan kanan. Berharap kalau ada seorang temannya yang berbaik hati memberikan tumpangan cuma-cuma untuk mengantarnya sampai di butik ‘The Laucivfre’. Butik yang selama ini memberikan banyak pelajaran  untuknya.

Suara klakson mobil menyadarkannya. HyeRa menerawang siapa yang berada dibalik jendela berkaca film yang sangat gelap itu.

Sang pemilik mobil membuka pintu, ia keluar dari mobil lalu berlari kecil untuk menghampirinya.

“HyeRa, kau mau ke butik ibuku kan? Ayo, aku antar.”

Oh! Jadi butik yang selama ini menjadi tempat bekerja HyeRa adalah butik ibunya Siwon.

HyeRa sedikit membelalak. Kenapa Siwon bisa tahu? Bahkan dirinya saja tak tahu kalau ibu pemilik butik yang sangat ramah itu adalah orang tua Siwon.

Siwon mengerti. HyeRa pasti sedang bingung sekarang, jadi Siwon lebih baik membukakan pintu mobilnya untuk gadis itu.

“Ayo masuk. Tidak perlu takut aku akan bertanya macam-macam padamu,”

HyeRa mengernyit. Bagaimana Siwon bisa tahu akan ketakutannya?

HyeRa pun memutuskan untuk naik ke mobil Siwon. Kalau dipikir-pikir daripada menunggu bus yg belum jelas kedatangannya lebih baik dia ikut dengan Siwon.

Setelah 45 menit menempuh perjalanan yang cukup padatan di kawasan London, akhirnya mereka pun sampai di butik ‘The Laucivfre’.

“Terima kasih, Siwon-ssi.” HyeRa sedikit menundukkan tubuhnya.

“Tidak masalah. Ohya, sampaikan salam untuk ibuku.” Siwon melempar senyum ke arahnya lalu melambaikan tangannya sebelum mobilnya kembali melesat pergi.

***

Seminggu berjalan dengan baik. Sejauh ini keadaan Siwon atau pun HyeRa dalam keadaan normal terkendali. Siwon tidak merasak pusing tiba-tiba menyerangnya. Apakah karena ia tak bertemu dengan HyeRa selama seminggu ini?

Memang akhir-akhir ini HyeRa sangat sibuk dengan tugas mata kuliahnya, mengingat ini adalah tahun kedua dirinya melakukan studi di London Fashion School. Begitu pun dengan Siwon dan Adelyn, mereka tak luput dari tugas yang kapan saja diberikan oleh sang dosen.

Di sisi lain, Kyuhyun pun sibuk dengan perusahaan ayahnya yang mengalami peningkatan sangat pesat. Apa karena semua dibawah naungannya? Ah, memang otak jenius seorang Cho Kyuhyun tidak perlu diragukan lagi.

Namun, kali ini Kyuhyun menyempatkan diri untuk bertemu dengan HyeRa–mungkin hanya sekedar mengajaknya makan malam bersama  atau bersantai diakhir pekan seperti biasanya. Seminggu tidak bertemu HyeRa rasanya lelaki itu kehilangan sedikit rasa dalam dirinya. Rasa apa? apakah HyeRa seperti garam yang membuatnya asin. Ah, tidak. HyeRa seperti selai strawberrychoconut. Rasanya bercampur aduk namun memiliki rasa spesial ketika ia berada didekatnya. Sesuatu yang membuatnya senang, nyaman, berdesir, bergetar, bergemuruh. Semuanya menjadi perpaduan yang unik.

Hari ini Kyuhyun pulang tak terlalu larut seperti biasanya, jam 5 sore ia sudah bersiap untuk pulang. Mengingat besok adalah hari cuti bersama jadi lebih baik karyawan pun dipulangkan lebih awal.

Bukankah dia adalah atasan yang baik?

Uhm, tidak juga.

Kerap kali Kyuhyun mengomeli karyawannya yang melakukan kesalahan kecil beberapa minggu lalu.

Mungkin ada alasan tersendiri dia mencepatkan kegiatan di kantornya, karena ia sendiri merasa penat. Otaknya butuh direfresh dan yang dia butuhkan sekarang adalah Han HyeRa untuk merefreshnya.

Mengapa harus gadis itu?

Menurutnya, HyeRa sangat pandai dalam menenangkan pikiran. Atau lebih tepatnya, pikiran Kyuhyun.

Kini Kyuhyun telah berdiri di depan apartemen HyeRa yang terletak bersebelahan dengan apartemennya. Ia menekan tombol bel pintu.

Beberapa kali tidak ada sahutan hingga suara intercom terdengar menginterupsinya, “siapa disana? Bukan orang jahatkan?”

Kyuhyun mendesah, tentu saja dia bukan orang jahat. “Ini aku, Cho Kyuhyun. Bisa kau buka pintumu?” sahutnya.

HyeRa segera membukakan pintu setelah lega ternyata yang datang adalah Kyuhyun.

“Kyuhyun? Kemana saja kau, hmm?” aku merind–” HyeRa segera membungkam kalimatnya. Matanya tak berani menatap Kyuhyun kalau-kalau Kyuhyun dapat membaca perasaannya.

Dan Kyuhyun dapat. Ia dapat membaca gerak-gerik HyeRa.

“Maaf aku sibuk dengan pekerjaanku. Dan aku tahu kau merindukanku,” Kyuhyun merasa bersalah namun wajahnya seakan terasa segar kembali mengetahui gadis itu merindukannya karena ia pun merasakan hal yang serupa. Rindu.

HyeRa mulai merasakan dadanya bergemuruh, warna merah merona mulai menjalari wajahnya kala Kyuhyun ternyata tahu dirinya merindukan lelaki itu.

“Hmm, maka dari itu aku ingin mengajakmu makan malam bersama. Apakah bisa?” Kyuhyun menyadarkan HyeRa yang menundukkan kepala.

Tentu saja HyeRa mau. Ia mengangguk pelan seraya mengulas senyum hangatnya.

“Baiklah kalau begitu aku ganti baju dulu. Hmm, kau masuk saja dulu ya.”

Kyuhyun mengangguk dan mengikuti HyeRa memasuki apartemen.

Beberapa menit kemudian tubuh HyeRa sudah terbalut dengan dress malam berwarna biru gelap dengan rambut tergerai. HyeRa tidak salah berpakaian kan? Ia tahu, makan malam harus mengenakan pakaian formal. Apalagi ia makan malam dengan lelaki tampan seperti Kyuhyun.

Kyuhyun tersenyum puas melihat HyeRa yang sangat cantik malam ini. Tidak sia-sia Kyuhyun bertemu dengan gadis itu malam ini karena semua kepenatannya tak berbekas setitik pun dalam dirinya.

HyeRa tersenyum malu-malu karena Kyuhyun sedari tadi memandangnya sembari senyum-senyum tak jelas.

“Ada apa? Baju yang kupakai salah ya?” HyeRa menaikkan alisnya menatap Kyuhyun.

“Hhm, tidak salah. Kau cantik. Ayo kita berangkat.”  Ajak Kyuhyun seraya mengamit tangan HyeRa.

HyeRa merasa pipinya mulai merona. Debaran jantungnya mulai terasa. Kenapa selalu seperti itu?

***

Akhirnya mereka pun sampai di restoran yang terkenal enak makanannya. Kyuhyun sudah membooking tempat sebelumnya, sehingga mereka tidak perlu pusing-pusing mencari tempat.

“Good evening Mr. and Ms. Anda mau pesan apa?” seorang pelayan datang menghampiri mereka dan menanyakan pesanan mereka.

“Makanan yang paling spesial di restoran ini. Kami pesan dua porsi,” ujar Kyuhyun. Pelayan segera mencatat pesanan lalu meninggalkan meja mereka.

“HyeRa-ya?” Kyuhyun mulai membuka pembicaraan dengan panggilannya.

“Uhmm, ya?” HyeRa tersenyum kaku. Entah kenapa ia merasa canggung seperti ini. Tidak seperti biasanya.

“Bagaimana kabarmu selama seminggu ini?”

“Baik-baik saja. Kau sendiri?” jawab HyeRa dan balik bertanya.

“Tidak terlalu baik.”

“Kenapa?” HyeRa memandang Kyuhyun dengan sedikit cemas. “Apa kau sakit?” lanjutnya lagi.

“Tidak juga.” jawab Kyuhyun singkat.

“Lalu?” Alis HyeRa meliuk, meminta penjelasan.

“Itu semua karenamu Ra-ya.”

“Aku penyebabnya?” Mata HyeRa membulat seketika.

“Uhmm, yaa. Karena kau terus mengusik-usik pikiranku dan tidak bertemu denganmu selama seminggu seperti tidak bertemu selama setahun.”

HyeRa membelalak. Napasnya sedikit tercekat mendengar perkataan Kyuhyun barusan, debaran jantungnya kian terasa.

“A-apa? Kenapa bisa begitu Kyuhyun? Baiklah. Maafkan aku.” Alih-alih HyeRa tidak bertanya apapun. Justru ia menginterupsi Kyuhyun lagi, seakan ingin menguras habis isi pikiran Kyuhyun.

“Haruskah aku mengatakannya sekarang Han HyeRa?” Kyuhyun menatap tepat pada manik mata HyeRa, mengikuti manik matanya yang terus menerus menuntut penjelasan.

Pelayan pun datang dan meletakkan makanan yang telah di pesan, “silahkan menikmati. Kalau Anda butuh sesuatu, panggil kami.”

Kyuhyun mengangguk seraya tersenyum tipis lalu beralih melihat makanan yang ada di depannya.

Sedangkan HyeRa, pikirannya masih bergulat dengan pembicaraan Kyuhyun. ‘Memang apa yang ingin dia katakan?’ batinnya.

Kyuhyun melirik HyeRa yang masih terdiam – belum menyentuh makanannya.

“Ayo, makanlah. Ini sangat enak Ra-ya!” Kyuhyun berseru menyadarkan HyeRa. Gadis itu hanya menatap Kyuhyun dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Apa? Jangan memperhatikan aku seperti itu. Aku tahu, aku ini tampan.” Kyuhyun mulai menyeringai.

“Cih! Percaya diri sekali!” HyeRa mengumpat sebal.

Setelah acara makan makanan inti selesai, mereka disuguhkan makanan penutup. Sepiring apple pancake saus strawberry dengan es krim di atasnya. Itu makanan penutup HyeRa sedangkan makanan penutup Kyuhyun adalah Chococolate cake yang apabila kue itu disendoki maka akan meleleh coklat seperti lahar di gunung api. Bukankah itu sangat enak?

Uhmm yummy.

Begitulah yang ada di otak HyeRa kala matanya terus melirik makanan penutup milik Kyuhyun.

Kyuhyun mengernyitkan dahinya ketika menangkap manik mata HyeRa yang terus memandang kue coklatnya itu.

Oh ayolah! Kyuhyun lupa ya kalau gadis itu sangat menyukai coklat?

Namun, Kyuhyun hanya tersenyum geli dalam hati melihat HyeRa dengan ekspresi seperti anak kecil yang ingin dibelikan es krim coklat. Sangat lucu.

Alih-alih terkekeh geli, Kyuhyun membuka percakapannya lagi Sembari memakan kuenya.

“HyeRa, kau besok ada acara tidak?”

HyeRa masih diam. Matanya masih setia mengamati kue coklat milik Kyuhyun yang tinggal setengah bagian sedangkan apple pancakenya masih utuh.

Kyuhyun, kenapa kau tega memberi apple pancake itu pada HyeRa sedangkan ia ingin choco cakemu? Okay, ini bukan sepenuhnya salah Kyuhyun, karena makanan penutup ini memang gratis disuguhkan untuk pelanggan tetap. Ya. Kyuhyun pelanggan tetap restoran ini.

Kyuhyun mengibaskan tangannya di depan HyeRa, “hei… Kau mendengarku tidak?” tanyanya.

HyeRa tersadar, matanya menangkap Kyuhyun yang menatapnya serius. “Bisa kau ulangi lagi?” Ia hanya bisa menyengir kuda di hadapan Kyuhyun.

Kyuhyun mendengus, “makanya jangan kebanyakan melamun Han HyeRa!!” pekiknya.

“Hihi, maaf kan aku Kyuhyun-ah. Please….” HyeRa memasang wajah paling memelas namun justru terkesan seperti aegyo – sembari tangannya meremas tangan Kyuhyun. Persis seperti anak kecil.

“Baiklah. Baiklah. Begini, besok aku akan mengajakmu ke suatu acara. Apakah bisa?”

HyeRa mengingat-ingat jadwalnya yang cukup padat minggu-minggu ini dan…. Ah iyaa dia harus menghadiri acara peresmian cafe milik Adelyn, besok. Ia tidak bisa membatalkan kehadirannya untuk Adelyn dan dengan dengusan pasrah ia mengatakan bahwa dirinya tidak bisa ikut dengan Kyuhyun.

“Maaf aku tidak bisa. Aku juga ada acara. Maafkan aku Kyuhyun….”

Lelaki itu mendesah panjang. Ia merasa sedikit kecewa tapi mau bagaimana lagi? Ia tak bisa memaksa HyeRa untuk datang bersamanya.

“Oh, yasudah tak apa.”

Hanya kata itu yang keluar dari mulutnya.

Akhirnya mereka pun selesai makan malam. Kini mereka sedang dalam perjalanan pulang. Kawasan Seoul pukul 10 malam tidak sepadat pukul 10 pagi, dengan begitu mereka bisa sampai di apartemen hanya menempuh waktu 15 menit.
Yeah! Tidak seperti di Jakarta bukan?

“Selamat malam HyeRa-ya. Terima kasih telah menemaniku makan malam.”Kyuhyun mengulas senyum, walaupun terlihat sekali guratan lelah pada wajah lelaki tampan itu. Maklum saja ia berada di kantor sejak pagi. Namun, setidaknya ia senang hari ini bisa menghabiskan makan malam bersama gadis itu.

HyeRa tersenyum hangat, ia menepuk-nepuk bahu Kyuhyun. “Aku juga berterima kasih padamu Kyuhyun.”

Ia sedikit beringsut mendekati Kyuhyun dan menyamai tingginya dengan sedikit berjinjit.

Sebuah kecupan hangat menyentuh pipi kanan Kyuhyun, lalu gadis itu berbisik persis di telinga pria tampan itu. “Selamat malam Kyuhyun. Mimpi indah ya.”

Kyuhyun membeku di tempat, pipinya dirambati rasa panas dan merah. Dentuman jantungnya semakin keras, desiran aneh menjalari tubuhnya. Tangan kanannya bergerak menyentuh pipi kanannya.

Sedangakan HyeRa buru-buru mengunci pintu apartemennya. Ia bersandar dibalik pintu dan merutuki apa yang telah beberapa menit lalu ia lakukan. “HyeRa! Kenapa kau bisa spontan melakukan itu?! Bodoh!”

***

Keesokan hari; pada malam harinya HyeRa sudah berpakaian rapi dengan setelan dress berwarna cream soft dengan rambut setengah bagiannya diikat membentuk simpul pada kedua sisinya.

Ohyaa satu lagi. Dress yang ia kenakan adalah salah satu rancangannya. Memang kemampuan desainnya tak perlu diragukan lagi. Desain yang simpel namun tetap terlihat elegant.

Kini HyeRa sedang berada di dalam taksi yang mengantarkannya ke acara peresmian cafe milik Adelyn. Beberapa menit menempuh perjalanan akhirnya ia sampai di cafe milik HyeRa.

Ia memasuki cafe tersebut, yang disambut hangat oleh sang pemilik cafe.

“Hai HyeRa, akhirnya kau datang juga.” ujarnya seraya memeluk HyeRa dan cipika cipiki.

“Tentu saja aku datang Lyn,” HyeRa mengulas senyum hangatnya.

“Sebentar yaa, aku harus pergi ke sana untuk bertemu tamu yang datang.”

HyeRa mengangguk; Adelyn berlalu meninggalkannya. Manik matanya berputar mengitari setiap sudut cafe. Matanya menyipit kala ia menangkap sosok yang begitu dikenalnya. Lelaki itu ada di sini juga? Batinnya.

Kakinya melangkah untuk menghampiri lelaki itu, namun sebuah tangan menahannya. “Mau kemana?”

HyeRa sedikit terkejut, medapati sosok Choi Siwon berada di belakangnya seraya menahan tangannya erat. “Kau di sini juga?”

“Tentu saja,” jawab lelaki itu enteng. “Aku ini kan kekasih Adelyn. Kau lupa?” lanjutnya lagi.

HyeRa menepuk dahinya pelan. “Oh astaga! Aku lupa,” batinnya.

Siwon masih menahan tangannya. Bola matanya menatap lurus ke arah HyeRa. Melihat manik mata gadis itu, Siwon merasa sangat mengenali manik itu. Memeri otak Siwon mulai diketuk-ketuk oleh semua kejadian. Namun, ia tak dapat menangkapnya dengan jelas. Pusing mulai menyergapi kepalanya hingga akhirnya suara Adelyn menyadar mereka yang saling terpaku.

“Selamat malam hadirin sekalian. Terima kasih telah datang pada acara peresmian The Cafe Breaktime.” suaranya bergema seantero cafe diikuti dengan gemuruh tepuk tangan.

“The Cafe Breaktime menyediakan berbagai jenis minuman dan makanan penghilang rasa penat. Cafe ini juga dirancang dengan desain klasik dan kasual yang akan menambahkan ketenangan.” Adelyn mulai bersua mendeskripsikan Cafe barunya.

“Bagi Anda penggemar coklat dan kopi, di sini menyediakan berbagai varian minuman dan makanan.”

Tentu saja tamu yang menyukai coklat dan kopi langsung bersorak tepuk tangan, termasuk HyeRa.

“Untuk 10 hari yang akan datang The Cafe Breaktime akan memberikan diskon 70% untuk semua yang berkunjung.”

Semua orang pun bertepuk tangan; sangat tertarik dengan penawaran sang pemilik cafe.

“Maka dari itu mulai malam ini The Cafe Breaktime resmi dibuka.”

Adelyn menggunting pinta yang terkait diantara sisi pintu The Cafe Breaktime, diikuti dengan suara tepuk tangan yang terdengar lebih meriah.

Choi Siwon yang notabane-nya adalah kekasih Adelyn pun menghampirinya seraya mengucapkan selamat atas peresmian cafe itu.

“Selamat, Adelyn Lee. Kau berhasil.” Siwon menjabat tangan Adelyn seraya memeluk sesaat tubuh ramping gadis itu.

HyeRa hanya tersenyum tipis, secercah pikirannya mulai diusik oleh masa lalunya kala lelaki bertubuh tinggi itu tidak lagi berada di sampingnya seperti sebelumnya.

Ada apa denganku? Pikirnya.

HyeRa hanya bisa bertepuk tangan sedangkan pikirannya entah melayang kemana.

Tiba-tiba tubuhnya tersentak ketika sebuah tangan merangkul pinggulnya dan berdiri di sisi kirinya.

HyeRa menoleh dan matanya membelak lebar mendapati Kyuhyun  berada di sampingnya seraya mengulas senyum hangatnya.

“K-kau?” HyeRa menaikkan satu alisnya, lengkungan bibirnya membentuk sebuah pertanyaan, “Kyuhyun kenapa bisa ada di sini?”

“Aku diundang oleh teman SMA-ku untuk datang ke sini. Kau sendiri?”

HyeRa membelalakan matanya, “Ka-kau kenal Adelyn juga?” tanyanya tak percaya dengan alis meliuk. “Aku teman satu kuliahnya,” lanjutnya lagi.

“Ya, tentu saja.” Jawab Kyuhyun dengan santai.

Suara Adelyn pun kembali menggema seantero cafe, “untuk memeriahkan acara peresmian The Cafe Breaktime ini, aku mempunyai permainan yang menarik untu kalian. Apakah kalian tertarik?”

Suara teriakan ‘IYA’ pun terdengar, Adelyn mulai mebacakan permainannya dan bonus permainannya.

“Jadi di sini ada beberapa jenis cake berbahan dasar coklat dan berbagai minuman jenis kopi. Di antara kalian hanya boleh memilih satu jenis kue bagi wanita dan satu jenis minuman kopi untuk pria. Setiap kue coklat memiliki pasangan minuman kopinya. Jadi kalian yang mendapatkan kue coklat beserta pasangannya yang menempati peringkat pertama akan mendapatkan hadiah.”

Mata Adelyn mengamati setiap tamu dan ia mendapati Siwon tengah berdiri di sebelah kanan HyeRa, sedangkan Kyuhyun berdiri di sebelah kiri HyeRa. Ia menhela napas dalam; sedikit membatin ‘Hye, kenapa kau mendapatkan dua lelaki yang aku sukai sekaligus. Ralat. Adelyn mencintai Siwon sekarang. Sedangkan Kyuhyun adalah masa lalunya, cinta pertamanya ketika gadis itu duduk di bangku sekolah tingkat atas. Namun, sayangnya Kyuhyun hanya bisa menganggap Adelyn sebagai teman dekatnya kala itu sampai sekarang pun akan tetap sama.

Adelyn tersenyum tipis, lalu melanjutkan kembali pengarahan permainan. “Peringkat pertama adalah bagi pasangan kue coklat dan kopi yang mendapatkan cemistry pada saat dansa. Hadiahnya adalah kalian akan mendapatkan makan dan minum gratis di The Cafe Breaktime selama tiga hari. Apapun yang kalian pesan akan kami layani. Bagaimana kalian tertarik?” Adelyn memandang para tamu dengan menaikkan satu alisnya.

Para tamu pun terlihat antusias dan sangat tertarik dengan permainan yang ditawarkan Adelyn. Mereka semua bersua mengucapkan kata setuju dan diikuti dengan tepuk tangan.

“Baiklah, permainan pun dimulai. di meja pertama telah tersedia 15 jenis kue coklat. Pilihlah salah satu yang kalian sukai.”

Terlihat para wanita mulai melihat-lihat kue coklat di meja pertama dan memilih sesuai kesukaan mereka; termasuk HyeRa. Lalu HyeRa memilih Chococolate Meltcake. Mungkin karena kemarin ia sangat menginginkan kue coklat itu ketika makan malam bersama Kyuhyun.

“Di meja kedua telah disediakan berbagai minuman kopi. Pilihlah sesuai selera kalian.”

Para pria pun merapat mendekati meja kedua dan memilih salah satu kopi yang mereka sukai. Siwon memilih Cappuccino Espresso sedangkan Kyuhyun memilih Espresso Con Panna.

Semuanya telah memilih sesuai selera masing-masing. Dan akhirnya saatnya menyebutkan pasangan kopi dari kue coklat yang telah disediakan.

Okay, kalian sudah memilih berarti saya akan menyebutkan pasangannya. Setelah Anda tahu pasangannya silahkan menghampiri dan berdampingan dengan kalian sampai acara dansa dilaksanakan. Apakah ada yang kurang jelas?”

Semuanya tersenyum dan mengangguk pertanda semuanya jelas. Baiklah ini saatnya.

“Kue coklat pertama adalah Cheesy Chococake dengan pasangannya yaitu Caramel Americano.”

Seorang gadis mengenakan gaun hitam dengan rambut terurai pun menghampiri pria yang mendapatkan Caramel Americano itu.

“Selanjutnya, Choco Browniecake dengan Vanilla late Macchiato.”

Adelyn terus menyebutkan kue coklat dan pasangannya sehingga beberapa pasangan telah terkumpul berdampingan.

“Oh baiklah tinggal dua kue coklat lagi yang belum mendapatkan pasangan kopinya.” Adelyn mengedarkan pandangannya dan di sana tinggal HyeRa, Siwon dan Kyuhyun yang masih belum mendapat pasangan mereka.

Adelyn tersenyum getir. Ia juga mengambil salah satu kue coklat itu. Ia memilih Choco Strawberry cake. Harapannya adalah pilihannya tidak salah.

Sedangkan HyeRa melirik Kyuhyun dari sudut matanya dan mengamati kopi yang dipegang Kyuhyun. Perasaannya mulai berbaur tak menentu. Pelan-pelan ia menarik napas dan menunggu kue coklat selanjutnya dibacakan.

“Selanjutnya adalah Choco Strawberrycake–” Adelyn mengambil jeda sebentar untuk menarik napas karena itu adalah kue coklatnya. Diliriknya kopi yang dipengang Siwon dan Kyuhyun, kopi dengan rasa dan warna yang berbeda.

Adelyn gugup untuk membacakannya, “–de-dengan pasangannya yaitu Espresso Con Panna.”

Kyuhyun pun menoleh ke arah HyeRa kala kopinya telah disebutkan, dan mungkin gadis itu tahu kalau Kyuhyun bertanya-tanya apa kue coklat yang dimilikinya. Namun, HyeRa menggeleng pelan, ” itu bukan kue coklatku Kyu. Kue yang kupunya adalah Chocolate meltcake.”

Kyuhyun membulatkan matanya, ‘lalu yang menjadi pasanganku siapa?’ batinnya. Ia sadar, hanya ada HyeRa dan Adelyn yang belum terpasangkan. Kalau bukan HyeRa berarti Adelyn?

Kyuhyun terkesiap, begitupun dengan Adelyn. Gadis itu melirik ke arah Kyuhyun yang tengah kebingungan.

Gadis itu pun akhirnya menghampiri mereka dengan perasaan takut. Takut kalau HyeRa benar-benar mendapatkan Siwon sebagai pasangan kue coklatnya dan takut kalau-kalau perasaannya yang terdahulu mulai merasuki dirinya lagi tatkala ia melihat Kyuhyun kembali di hadapannya.

HyeRa tersenyum getir, “aku mendapatkan Chocolate Meltcake. Kueku bukan pasangan Espresso Con Panna.” Ia berujar seraya matanya bergerak mengamati Siwon, Kyuhyun dan Adelyn bergantian.

Siwon mengernyit, “lalu?” tanyanya.

“Kueku yang berpasangan dengan Espresso Con Panna.” Adelyn bersua juga dengan suaranya yang bergetar.

Kyuhyun mendelik ke arah Adelyn, sedangkan dari sudut mata Adelyn; ia bisa melihat kalau Siwon tersenyum.

“Kau pasangan dansaku Kyuhyun.” Suara Adelyn terdengar pelan.

Deg!!! Ada rasa menyakitkan yang menubruk hati HyeR kala ia tahu Kyuhyun bukan pasangannya. Lalu, ia melirik Siwon yang berdiri disampingnya. “Oh! Tuhan ada apa ini? Kenapa rasanya kepalaku pusing sekali seperti ada yang menghantam.” dengusnya dalam hati.

Akhirnya dengan amat sangat terpaksa mereka mengambil posisi untuk berdansa. Suara musik pun mengalun lembut seantero yang dibarengi dengan lampu yang mulai meredup.

Siwon menikmati lagunya. Ia menaruh lengan kanannya di pinggang HyeRa dan tangan kirinya menuntun tangan HyeRa untuk melingkarkannya di leher lelaki itu.

Sedangkan Kyuhyun hanya bisa meratapi nasibnya. Mendengus pasrah ketika memandang Adelyn yang berada di hadapannya. Lalu mengalihkan pandangannya lagi ke arah HyeRa.

Kyuhyun salah besar kala ia menoleh ke arah HyeRa dan mendapati HyeRa dengan Siwon hanya berjarak beberapa senti saja; saling menatap satu sama lain dengan wajah yang sangat dekat. Lelaki tampan itu hanya bisa mendengus dan suara Adelyn menyadarkannya kalau ia masih harus berdansa dengan pasanganya.

“Kalau kau tidak mau berdansa denganku tidak apa-apa Kyuhyun-ssi. Aku mengerti perasaanmu.”

Kyuhyun menggeleng pelan, tangannya meraih pinggang Adelyn lembut dan memperpendek jarak diantara mereka. Kyuhyun tahu ini menyakitkan untuknya dan Adelyn. Namun, ia harus melakukannya demi kelancaran acara itu.

Well, mereka akhirnya sibuk dengan alunan musik seraya berdansa ke kiri kanan mengikuti musik yang mengalun.

HyeRa merasa ada rasa amarah yang meletup-letup sekaligus sebagian rasa yang dulu telah dipendamnya dalam-dalam kini kembali terkuak. Ia menatap manik mata Siwon yang hanya beberapa senti di hadapannya. Manik mata lelaki itu seperti mengingatkannya pada sosok anak lelaki yang dulu pernah menelusupi relung hatinya dengan candaan dan tawa pada setiap harinya.

Pandangan mereka saling bertemu hingga akhirnya pikiran mereka melayang ke masa lalu.

Flasback

“Hei, kau mau kemana?!” teriak seorang gadis kecil pada anak lelaki yang hendak menyebrang jalan yang ramai.

“Aku ingin kabur dari rumah. Orang tuaku tak menuruti keinginanku. Mereka sudah tak menyayangiku!” teriak anak lelaki itu dengan mata yang berkaca-kaca.

“Mereka masih menyanyangimu, sungguh. Kau hanya harus percaya dan bersabar pada mereka.” Tangan gadis kecil itu meraih tangan anak laki-laki itu.

 

Akhirnya anak laki-laki itu mengangguk dan diantar pulang oleh gadis kecil itu.

 

“Terima kasih kau telah menyadarkanku. Aku tidak akan berbuat seperti ini lagi.” Sesalnya lalu tersenyum dengan tulus.

 

“Lalu, siapa namamu?” tanya anak laki-laki itu ketika mereka telah sampai di depan rumahnya.

 

“Namaku Han HyeRa.”

 

“Aku Choi Siwon. Senang berkenalan denganmu HyeRa.” Siwon kecil tersenyum ramah pada HyeRa kecil.

 

Mulai dari pertemuan pertama itu, mereka menjadi lebih akrab satu sama lain.

 

Waktu terus bergulir.

 

5 tahun bersama gadis itu tak cukup untuk Choi Siwon dan Han HyeRa. Mereka harus berpisah sedangkan diantara mereka telah tumbuh suatu rasa yang aneh.

 

Hingga akhirnya HyeRa kecil memutuskan untuk memendam rasa aneh itu sedalam-dalamnya, sedangkan Siwon mengalami depresi karenanya.

 

 

 

Now

Ingatan mereka telah pulih. Ralat. Semua rasa yang selama ini terpendam dalam diri HyeRa semuanya terkuak jelas. Memori otaknya masih ingat benar kalau Siwon adalah anak laki-laki yang disukainya kala itu.

Siwon telah mengingat semua memori kejadian yang telah terhapusnya selama beberapa tahun ini. Ia sekarang ingat kalau HyeRa adalah gadis kecil yang menjadi penguat kehidupannya sewaktu kecil. Dengan mata yang berlinang, Siwon merengkuh HyeRa ke dalam dekapannya.

“HyeRa-ya, aku sangat merindukanmu. Aku merindukanmu sebagai teman kecilku yang selalu menguatkanku.”

“Aku pun merindukanmu Siwon-ah.” HyeRa membalas pelukannya dengan hangat. Melimpahkan segala kerinduan dan perasaan yang selalu ditahannya.

Siwon masih mendekap HyeRa dengan erat seraya bibirnya membentuk sebuah kalimat yang terdengar seperti bisikan tepat pada telinga gadis itu, “HyeRa-ya, aku tahu ini sangat terlambat, tapi perasaan ini sudah ada semenjak kita saling bersama. Aku menyukaimu, menyanyangimu, bahkan menc—“

HyeRa merengangkan dekapannya, ia menatap lekat manik mata Siwon. “Maaf Choi Siwon, aku tidak bisa. Dulu memang aku memiliki perasaan yang sama sepertimu tapi sekarang seseorang telah masuk ke dalam jiwa dan hatikku. Kau juga sudah memiliki Adelyn yang mencintaimu.”

Siwon semakin mempersempit jarak diantara mereka, kini dengan jarak hanya beberapa senti sehingga mereka bisa merasakan deruan napas dan hembusan napas masing-masing.

Lelaki itu tersenyum getir, “okay, baiklah tidak masalahnya tapi biarkan aku seperti ini untuk malam ini saja.”

Mereka terus berdansa dengan jarak pandang yang sangat dekat. Jikalau dilihat dari jarak jauh pasti orang-orang menyangka mereka sedang melakukan adegan kissing seperti dalam drama. Namun, sebenarnya mereka tidak melakukan itu.

Di sisi sebelah kanan mereka, Kyuhyun dan Adelyn merasakan panas yang mengaliri darahnya. Walaupun mereka sama-sama sedang berdansa saat itu, namun pikiran mereka berfokus pada pasangan yang berada di sebelah mereka.

Kyuhyun hanya bisa mendengus ketika ekor matanya mendapati HyeRa yang berada dengan jarak sedekat itu. Aliran darahnya seakan ingin membuncah kala itu juga. Alih-alih emosinya meledak-ledak justru ia semakin mempersempit jaraknya dengan Adelyn.

Adelyn tersentak dan membelalakan matanya, “ka-kau mau apa Cho Kyu – ”

Kyuhyun segera membungkam protes gadis itu dengan menyentuhkan jari telunjuknya pada bibir gadis itu, “sssttt…. diam!” perintahnya dengan nada dingin.

Cho Kyuhyun perlahan mencondongkan wajahnya ke arah Adelyn. Gadis itu tentu saja menolak dengan mengalihkan wajahnya, namun Kyuhyun menarik wajah gadis itu supaya menatap wajahnya lekat. Kyuhyun mungkin memang sudah gila, ia terlalu terbakar cemburu sehingga ia ingin membalas pemandangan yang sempat dilihatnya. Kini ia menarik dagu Adelyn dan semakin mencondongkan wajahnya hingga……..

Samar-samar dari ekor matanya HyeRa melihat ke arah Kyuhyun dan Adelyn. Rasa sesak tiba-tiba menyergapinya tatkala matanya menangkap Kyuhyun sedang….. ah! HyeRa tak sanggup mendeskripsikannya, matanya mulai mengabur dan pandangannya beralih menatap mata Siwon yang lebih teduh.

Di sisi lain Kyuhyun tak sanggup, walaupun tinggal beberapa senti lagi bibirnya berpagutan dengan milik Adelyn namun ia tak sampai. Hati dan pikirannya berkecamuk. Ia tak pernah merasakan hal ini sebelumnya.

Kyuhyun pun mengalihkan pandangannya; memutar bola matanya untuk melihat HyeRa dan Siwon. Dan itu membuatnya jengah. Kyuhyun menghentikan dansanya dengan Adelyn; menjauhkan Adelyn dari tubuhnya. Dengan kecepatatan kilat, ia menarik gadis itu lalu mendorong tubuh Siwon menjauh dari HyeRa.

HyeRa menarik napas kasar, matanya memandang Kyuhyun yang emosinya sudah berada di puncak kepalanya. Kyuhyun menatap tajam ke arah HyeRa, tangannya menarik tangan gadis itu lalu menyeretnya keluar dari cafe. Gadis itu meringis tatkala tangan Kyuhyun mencengkramnya kuat.

“Kyuhyun! Lepaskan!” HyeRa mencoba menghempaskan tangan lelaki itu namun Kyuhyun tak menghiraukan rintihan dan rontaan HyeRa. Ia terus menyeret HyeRa sampai di parkiran tempat mobilnya berada.

Tubuh kecil HyeRa didorong ke arah mobil Kyuhyun. Kepalanya hampir saja terbentur sebelum lengan Kyuhyun sampai sebagai sandaran kepalanya.

“Kau…” Kyuhyun menatap tajam HyeRa. Alih-alih meredam emosinya dengan tenang, justru Kyuhyun merenggut bibir kecil gadis itu dan meluapkan emosinya di sana.

HyeRa hanya bisa terpaku, hatinya bergetar, desiran-sediran mulai menjalarinya, pipinya diwarnai warna merah, detak jantungnya berpacu cepat. Ia tak menyangka kalau Kyuhyuun secara tiba-tiba melakukan hal itu padanya.

“Kyu…Hmpph.” HyeRa berusaha melepaskannya namun Kyuhyun menahan tubuhnya.

Akhirnya setelah beberapa detik berlalu, Kyuhyun melepaskan pagutan bibirnya dengan milik HyeRa.

“Ra-ya, maafkan aku. A-aku –“

Kyuhyun menghentikan kalimatnya kala jari telunjuk gadis itu menyentuh bibirnya.

“Sssttt…” HyeRa berdesis. Ia menarik napas kasar memandang manik mata Kyuhyun yang terlihat sedikit merah akibat menahan emosi. “Ada apa Kyu? Kenapa kau melakukan ini?” lanjutnya lagi dengan suara bergetar.

“A-aku tak sanggup melihatmu dengan Siwon karena –“

“Apa?” sanggah HyeRa. Aliran darahnya mengalir cepat secepat jantungnya yang sedang terpompa.

“Aku mencintaimu, saranghae.”

***

 

The graduation of all student in London Fashion School

 

Setelah semua siswa melakukan study-nya selama tiga tahun lebih akhirnya mereka lulus dengan nilai yang sangat memuaskan. Termasuk gadis bernama Han HyeRa yang lulus dengan nilai terbaik pada tahun ini. Tentu saja HyeRa sangat senang karena ia bisa membahagiakan dirinya dan orang tuanya.

HyeRa juga ditawarkan menjadi desainer untuk mendesain semua model catwalk kelas dunia. Itu adalah kesempatan emas yang pernah diraihnya selama ini, dan itu adalah cita-citanya. Akhirnya perjuangannya selama ini jauh-jauh dari negeri gingseng untuk belajar di London membuahkan hasil yang memuaskan.

Kini HyeRa, Siwon, dan Adelyn melemparkan toganya secara bersamaan seraya bersorak senang.

“Wohoooo akhirnya kita lulus!!” teriak Adelyn.

Siwon merangkul bahu kekasihnya, “tentu saja Honey.”

 

Ya. Siwon pun masih merajut hubungan dengan Adelyn. Ia sadar, mungkin memang cinta masa kecilnya hanya sebatas cinta monyet dan cinta yang ia rasakan sesungguhnya adalah ketika desiran-desiran aneh dirasakannya, jantungnya yang terpacu dengan cepat, pipinya dirambati warna merah; itu semua dirasakannya tatkala gadis itu–Adelyn berada di dekatnya.

Lalu bagaimana dengan Kyuhyun?

Kyuhyun sudah pulang ke Korea terlebih dulu sebelum HyeRa melakukan tugas ujian kelulusannya.

Dan semenjak acara peresmian The Cafe Breaktime dan insiden pada malam itu, mereka resmi menjalani hubungan yang lebih serius.

Kyuhyun tahu, caranya penyampaian perasaannya pada insiden malam itu bukanlah cara yang baik sehingga ia mengulanginya. Kala itu ia membelikan sebucket bunga keesokan harinya dan menyatakan cintanya dengan hal selayaknya.

Well, walaupun tetap saja tak terkesan romantis, tapi HyeRa tetap menerimanya dengan senang hati dan rasa yang serupa dengan lelaki tampan itu.

HyeRa mencintai Kyuhyun sebagaimana lelaki itu mencintainya sepenuh hati dan rasa coklat kesukaannya.

Chocolate terbaik yang pernah ia rasakan diseluruh dunia. Chocolate dengan rasa dan aroma khas yang membuatnya sangat terpikat. Chocolate yang mengisi seluruh pikiran dan hatinya. Chocolate yang merilekskan pikiran dan selalu menenangkannya. Chocolate itu adalah Cho Kyuhyun.

The precious day for Han HyeRa and Cho Kyuhyun.

5 month later after graduation.

 

Hari itu adalah hari bahagia, hari terpenting, hari berharga dan awal hari yang akan mengawali kehidupannya bersama Cho Kyuhyun. Dimana hari seorang gadis cantik bernama Han HyeRa mengenakan sebuah gaun berdesain simpel tetapi terkesan mewah–yang  ia rancang sendiri–untuk   hari penikahannya bersama Cho Kyuhyun.

Kini ia berjalan anggun memijaki sebuah karpet merah yang mengantarkannya sampai di depan altar dan di sana tengah berdiri seorang lelaki tampan dengan tuxedonya yang terbalut apik di tubuhnya.

Akhirnya ayahnya yang mendampinginya selama berjalan di atas karpet merah itu pun menyerahkan tangan gadis semata wayangnya pada Kyuhyun yang tersenyum dengan pancaran wajah yang sangat bahagia.

Tidak ada hal yang paling mendebarkan bagi mereka tatkala di hadapannya kini seorang pemuka agama yang akan menyatukan mereka menjadi sepasang suami istri yang akan hidup bersamanya sampai ajal menjemput mereka.

“Saudara Cho Kyuhyun, apakah engkau berjanji dihadapan Tuhan dan semua saksi mata bahwa kau akan menjaga, melindungi, mengasihi dan mencintai gadis disampingmu dengan setulus dan seutuh hatimu?”

“Ya, aku berjanji akan melakukannya dengan setulus dan seutuh hatiku, sampai maut yang akan memisahkan kami.” Kyuhyun mengucapkan janji itu dengan lantang.

“Bagus.” Ujar sang pemuka agama. “Saudari Han HyeRa, apakah engkau berjanji akan melakukan hal yang sama seperti lelaki disampingmu?” lanjutnya lagi.

“Ya, aku berjanji.”

Akhirnya acara penyatuan mereka pun usai. Seperti layaknya pasangan-pasangan lain, mereka menyemati jari manis mereka dengan cincin pernikahan.

Lalu, Kyuhyun mencium puncak kepala gadis itu dengan kasih dan cinta yang sangat dalam.

Ia pun berbisik tepat pada telinga kanan gadis itu.

“Aku mencintaimu sampai kapan pun. Saranghae.”

Dan setelahnya, mereka mendapatkan berbagai jabatan tangan ucapan selamat atas pernikahan mereka.

“HyeRa-ya, kau berhasil! Selamat atas pernikahanmu. Dan, uhhmm aku sangat iri padamu karena suamimu sangat tampan.” Ji Yoon–sahabat terbaik HyeRa pun memeluk hangat sahabatnya itu seraya mengucapkan ucapan selamatnya setengah berbisik. Ia tersenyum senang kala dirinya sudah melepaskan pelukan hangat itu.

HyeRa sedikit terkekeh, “haha kau bisa saja. Kau tahu? Hyuk Jae juga tak kalah tampan ‘kan?”

Ji Yoon hanya menanggapinya dengan senyuman lebar yang menghiasi wajahnya. Ia tahu cinta memang tak memandang seberapa tampan wajah pria yang kalian cintai. Tapi seberapa besar cinta itu tumbuh dan kalian rasakan.

***

5 days after married

Kyuhyun melingkarkan tangannya di pinggang gadis yang telah resmi menjadi istrinya. Ia menaruh kepalanya pada bahu HyeRa dengan manja. Menghirup aroma khas yang menguar dan membuatnya menjadi candu untuk melakukan hal ini. “Hye, kau sedang membuat apa?” tanyanya.

Suara Kyuhyun mengalun lembut memasuki telinga HyeRa. Deruan napas lelaki itu sangat jelas menyentuh tengkuk lehernya. HyeRa menolehkan kepalanya sebentar untuk melihat wajah Kyuhyun dan kembali fokus pada dua gelas yang sudah terisi air panas dan bubuk cokelat. Lalu menjawab pertanyaan suaminya itu, “aku sedang membuat dua gelas coklat panas untuk kita. Kau mau kan?”  Ia mengaduknya perlahan lalu menambahkan creamer di atasnya.

“Tentu saja.” Jawab Kyuhyun seraya melepas tangannya yang melingkar pada pinggang HyeRa.

HyeRa pun menyodorkan segelas coklat panas untuk Kyuhyun, “ini. Kalau kurang manis bilang padaku.”

Kyuhyun mengangguk dan mulai meniup-niup coklat panasnya lalu menyeruput coklat panas itu perlahan-lahan, ia menyecap rasa coklatnya yang sedikit kurang manis.

“Ra-ya, coklatnya kurang manis.” Protesnya seraya memandang HyeRa yang sedang menyesap coklat panasnya juga.

“Masa? Sini aku yang merasakannya.” HyeRa ingin mengambil alih coklat panas Kyuhyun namun Kyuhyun mencegahnya.

“Tidak, bukan itu yang kumau.” Tolak Kyuhyun cepat dengan gelengan kepalanya dan menjauhi coklat panasnya dari HyeRa.

“Lalu?” HyeRa mengernyit menautkan kedua alisnya.

Sejurus kemudia ia mendapatkan sebuah kecupan singkat dari Kyuhyun.

Lelaki itu hanya bisa tersenyum menyeringai ke arah HyeRa.

“Ya dasar Cho Kyuhyun!!! Kau memang selalu saja.”

Kyuhyun terkekeh, “selalu apa? selalu bisa membuat pipimu memerah seperti itu. Cih, kau ini masih saja merasakan hal itu.”

HyeRa tersenyum lalu meletakkan secangkir coklat panas miliknya dan milik Kyuhyun di meja makan lalu mengalungkan tangannya di leher suaminya itu.

“Cho Kyuhyun, kau adalah coklat terbaik yang kumiliki. Coklat termanis yang pernah kurasakan dan kau adalah coklat yang paling aku cintai. Saranghae.”

 

 

 

“You’re the sweetest chocolate I’ve ever”

 

 

 

 

 

-END-

 

 

A/N ;

 

Hallooo adakah yang menunggu sequel ini? Uhhmm aku udah berusaha sebisa mungkin untu menulis fic sequel ini karena aku sempat mengalami writter’s block dan aku stuck bgt. Akhirnya aku dapat pencerahan lagi dan akhirnya ini adalah oneshoot pertamaku yang paling panjang. Semoga hutangku sudah lunas ya bagi yang menginginkan sequel ini. Dan komentar kalian sangat dibutuhkan untuk membangun tulisanku yang ini dan selanjutnya.

 

Terima kasih.

 

 

Already posted on my personal blog https://suciramadhaniyworld.wordpress.com/

Dan kalau kalian mau kunjungi juga http://familyoffanfictions.wordpress.com/

 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements